Kenapa Ada Barang Thrift yang Harganya Mahal? Ini Penjelasan Berdasarkan Data & Fakta

RewearNews

12/20/2025

Kenapa Ada Barang Thrift yang Harganya Mahal? Ini Penjelasan Berdasarkan Data & Fakta

Selama ini, thrift identik dengan harga murah. Namun realitanya di lapangan, tidak sedikit barang thrift yang justru dibanderol mahal, bahkan bisa menyamai atau melampaui harga barang baru. Fenomena ini sering memicu pertanyaan: kalau bekas, kenapa harganya bisa tinggi?

Jawabannya tidak sesederhana “karena merek”. Harga barang thrift dipengaruhi oleh mekanisme pasar yang kompleks, mulai dari kelangkaan, era produksi, permintaan komunitas, hingga kondisi fisik dan storytelling di balik barang tersebut. Artikel ini akan membahas secara mendalam faktor-faktor tersebut berdasarkan data dan tren industri thrift global.

1. Kelangkaan: Ketika Barang Bekas Justru Sulit Ditemukan

Dalam ilmu ekonomi, kelangkaan (scarcity) adalah salah satu penentu utama harga. Prinsip ini juga berlaku di dunia thrift.

Barang Thrift Berkualitas Tidak Sebanyak yang Dibayangkan

Tidak semua barang bekas layak jual. Sebagian besar stok thrift global terdiri dari:

  • Barang fast fashion dengan kualitas rendah

  • Pakaian yang sudah rusak, melar, atau tidak layak pakai

  • Model yang tidak relevan dengan pasar

Akibatnya, barang thrift yang benar-benar berkualitas tinggi menjadi minoritas. Ketika barang tersebut memiliki kondisi baik, desain unik, atau produksi lama yang tidak lagi tersedia, nilainya langsung melonjak.

Kenapa Kelangkaan Makin Terasa Sekarang?
  • Minat thrifting meningkat secara global

  • Reseller dan kolektor menyaring barang terbaik lebih cepat

  • Produksi pakaian modern lebih massal dan kurang tahan lama

Artinya, stok lama yang berkualitas semakin menipis, sementara jumlah pencari terus bertambah. Inilah yang membuat beberapa item thrift “naik kelas” dari barang murah menjadi barang bernilai tinggi.

2. Era Produksi: Nilai Historis yang Tidak Bisa Direplikasi

Tidak semua barang bekas bisa disebut vintage. Era produksi menjadi faktor penting yang membedakan thrift biasa dengan thrift bernilai tinggi.

Kenapa Barang dari Era Tertentu Lebih Mahal?

Barang dari era 1970-an, 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an (Y2K) memiliki:

  • Teknik produksi yang berbeda

  • Material yang lebih tebal dan tahan lama

  • Potongan dan detail yang tidak lagi diproduksi saat ini

Barang-barang ini tidak bisa “direstock”. Sekali habis, ya habis.

Efek Siklus Tren Fashion

Fashion selalu berputar. Ketika tren lama kembali populer:

  • Barang asli dari era tersebut langsung naik permintaan

  • Konsumen lebih memilih versi autentik dibanding reproduksi

Contohnya, ketika tren Y2K naik, item asli produksi awal 2000-an menjadi incaran dan otomatis lebih mahal dibanding thrift generik.

3. Demand Komunitas: Saat Selera Kolektif Menentukan Harga

Harga thrift hari ini tidak hanya ditentukan oleh kondisi barang, tetapi juga oleh komunitas yang menginginkannya.

Thrift Bukan Lagi Sekadar Murah

Bagi Gen Z dan milenial, thrifting kini adalah:

  • Bentuk ekspresi diri

  • Identitas gaya

  • Pilihan sadar terhadap fashion berkelanjutan

Akibatnya, banyak pembeli thrift tidak lagi mencari harga termurah, tetapi mencari item yang:

  • Unik

  • Tidak pasaran

  • Diakui komunitas sebagai “item keren”

Peran Media Sosial & Marketplace

Konten di TikTok, Instagram, dan marketplace global membuat:

  • Item tertentu menjadi viral

  • Micro-trend muncul dengan cepat

  • Permintaan melonjak dalam waktu singkat

Saat komunitas menganggap suatu item “worth it”, harga akan mengikuti—bahkan jika statusnya barang bekas.

4. Kondisi Fisik: Bekas, Tapi Tidak “Rusak”

Kondisi barang tetap menjadi penentu krusial dalam harga thrift.

Apa yang Dinilai dari Kondisi?

Barang thrift bernilai tinggi umumnya:

  • Minim cacat

  • Jahitan masih kuat

  • Warna belum pudar ekstrem

  • Layak pakai tanpa perbaikan besar

Semakin dekat kondisinya ke “like new”, semakin tinggi pula nilai jualnya—terutama jika barang tersebut sudah langka.

Kurasi dan Perawatan Menaikkan Harga

Banyak penjual thrift melakukan:

  • Seleksi ketat

  • Perawatan dan pencucian khusus

  • Restorasi ringan

Proses ini membutuhkan waktu dan biaya, yang pada akhirnya tercermin dalam harga.

5. Storytelling: Nilai Emosional yang Tidak Terlihat

Salah satu faktor paling sering diremehkan dalam dunia thrift adalah storytelling.

Kenapa Cerita Bisa Menaikkan Harga?

Ketika sebuah barang memiliki narasi yang jelas—misalnya:

  • Asal era produksi

  • Riwayat pemakaian

  • Konteks budaya atau tren

Maka barang tersebut tidak lagi sekadar pakaian, tetapi artefak fashion.

Pembeli tidak hanya membeli fungsi, tetapi juga:

  • Cerita

  • Identitas

  • Pengalaman emosional

Inilah alasan kenapa dua jaket yang terlihat mirip bisa memiliki harga yang sangat berbeda.

Kesimpulan: Mahal Bukan Berarti Tidak Masuk Akal

Barang thrift bisa mahal bukan karena “dimark-up tanpa alasan”, melainkan karena nilai yang dibangun dari banyak faktor sekaligus:

  • Kelangkaan barang berkualitas

  • Nilai historis dari era produksi

  • Dorongan permintaan komunitas

  • Kondisi fisik yang masih prima

  • Storytelling yang menambah nilai emosional

Di titik ini, thrift bukan lagi sekadar alternatif murah, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem fashion bernilai tinggi.

Bagi pembaca, memahami faktor-faktor ini penting agar bisa:

  • Menilai harga thrift secara objektif

  • Membedakan mahal karena hype vs mahal karena value

  • Lebih bijak saat membeli atau menjual barang thrift

Karena pada akhirnya, yang menentukan mahal atau tidaknya sebuah barang thrift bukan status “bekas”-nya, tetapi nilai yang melekat di dalamnya.